Sunday, January 13, 2013

WAKTU

Aku terperangkap oleh waktu. Yang terhenti oleh satu wajah. Wajah yang mampu menggerakkan banyak rasa. Diantara sayup, aku yang dalam kesendirian waktu, menatap jauh dinding-dinding kosong yang harus ku interpretasikan satu-satu. Ini mungkin yang orang-orang sebut menyendiri, benar-benar sendiri. Mengapa bisa banyak orang berharap ‘sedang ingin sendiri’, ‘saya sedang butuh waktu untuk sendiri’.

Ternyata rasanya tak enak, tinggal sendiri dalam fikiran-fikiran yang berputar tak henti. Berceracau, bising,  runyam seperti benang kusut yang biasa diistilahkan orang. Kadang longgar. Tapi terus berlalu begitu dengan kata-kata yang berterbangan terdisorientasi waktu dalam satu ruang sempit. Entah sudah berapa tahun bahkan abad aku disini. Berkata-kata sendiri. Ditimpali oleh dinding-dinding dingin. Lalu disangkal oleh diriku sendiri, untuk dicerca kembali oleh kata-kata yang berserakan.

Setelah semua saling berbisik, bicara, berteriak, dan berisik. Tiba-tiba sunyi. Mereka seperti lelah dan mulutnya terkunci. Aku ingin keluar dari waktu yang terhenti disini.

Tiba-tiba aku terbangun, tapi seperti sudah berpindah keluar dari dunia waktu. Sekali aku berucap dalam hati, sepi, tak ada yang menimpali seperti tadi. Lalu ku berceracau kembali dalam hati, tetap tak ada kata-kata lain yang bergeming. Aku teriak sebisaku, tetap hening. Apakah dunia sudah terbalik?

Mungkin kini waktu yang terperangkap dalam diriku. Kucium aroma rindu...
Lalu aku melenggang mengambil handuk, dan mengambil setangkup roti bakar selai nanas.

Saturday, January 12, 2013

Tuan Hujan #1

Tuan Hujan Pemalu


kamu menyapaku malumalu
bahkan senja menyipit dan tersipu
dedaunan bergoyang kemayu
ahh, rinduku satusatu

kamu tak bisa terus begitu
lamalama dan jauh
kita satu raga dalam jingga
biarkan kelabu dan biru tanpa ratu

aku rindu kamu tuanhujan
baumu yang dingin sendu
seperti bau roti bakar
dan rasa jeruk yang kecut

Thursday, January 10, 2013

Kanvas

Aku adalah kanvas yang sedang dijajakan di toko buku. Aku bisa melihat beberapa pengunjung, ada yang hanya melirik sebentar ke arahku, ada yang sudah memandang lama sambil menyentuhku tanda hampir tertarik padaku, ada yang sama sekali tidak melihatku… lewat begitu saja.

Lalu ada tangan yang membeliku, akhirnya. Aku dibawa ke rumahnya yang sangat besar, lalu ditaruhlah aku dipojok ruangan. Aku mendengar percakapan Tuanku dengan seorang yang lain. Aku terharu ketika tahu bahwa proses yang aku lalui untuk sampai ke tangan Tuan tidaklah mudah. Katanya aku memenuhi kriteria kanvas yang diinginkannya, mulai dari tekstur, bahan, warna, ukuran, dan juga harga. Aku memenuhi semua kriteria itu!

Lama sekali aku bersandar di sini. Tuanku bahkan belum menyentuhkan satu warna pun pada diriku. Aku jadi menyesal, mengapa aku disini. Kenapa aku tidak dibeli oleh Tuan lain yang benar-benar membuatku berguna, yang menggoreskan warna-warna indah dengan guratan seni yang menawan, sehingga jadilah aku lukisan yang rupawan dan bernilai. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi, hanya menanti sambil berharap-harap cemas. Apakah aku akan melapuk dalam keadaan tetap polos seperti ini? Dibuang? Diberikan kepada tuan lain? Atau Tuan akhirnya melukisku walaupun masih ada kekhawatiran akan menjadi lukisan seperti apa aku ini.

Kenyataannya aku bukanlah kanvas, aku manusia. Aku bisa bergerak, berusaha menjadi lukisan yang aku inginkan. Aku bisa melangkah keluar dari rumah Tuan itu dan mencari tempat lain yang lebih memahamiku atau aku bisa berteriak kepada si Tuan “hey, aku ada!”. Jadi, beruntunglah kita para manusia. Lukislah dirimu dengan warna-warna indah. Jadilah lukisan yang memukau dan bernilai tinggi. Jadilah ada.

Tuesday, January 08, 2013

Tentang Buddy

Salah seorang rekan saya mengingatkan bahwa blog ini mati suri. Jadi saya coba hidupkan lagi dengan cerita pertama yang akan saya mulai adalah tentang rekan yang mengingatkan saya tentang blog ini. Di bawah ini adalah percakapan saya dengan 2 orang yang seperti kucing dan anjing, sebut saja Catty dan… Buddy (Doggy terlalu kebinatangan). Note: Buddy ini rekan yang mengingatkan saya tentang blog ini. Catty dan Buddy seperti paduan bahan sambel (tadi kucing dan anjing, sekarang sambel, terima aja ya), bisa bikin saya mulas (karena banyak tertawa). Apalagi kalau ada 2 orang lagi, sebut saja Rabbit dan Abang (bayangkan: Abang tukang kelinci) saya bisa merasa gila sekaligus bersyukur karena saya sadar bahwa saya paling waras diantara mereka.
Ceritanya berawal ketika saya dan Catty akan mudik ke Serang, kami berencana berangkat sepulang dari kantor. Buddy sudah berangkat duluan tepatnya dia ijin pulang cepat sebagai antisipasi jalanan akan sangat macet karena arus mudik lebaran qurban. Jujur saya dan Catty tidak menganggap kemacetan itu sesuatu yang WOW, toh cuma ke Serang, bukan ke Tegal misalnya. Karena capek seharian bekerja, pergerakan kami lambat. Sudah terlanjur malam, ya kemalaman sekalian, mungkin jalan akan berangsur lengang, pikir kami.
Kami berangkat jam8 malam. Naik busway menuju slipi. Di busway penuhnya minta ampun, jalananpun penuh tiada tara. Diantara hempitan manusia ini, ada BBM masuk dari Buddy.
Buddy   : Nyai hendak naik dari mana? Bisa dipastikan bus penuh, hati-hati ah.
Karena sumpek, sensi, saya dan Catty membaca kalimat Buddy seperti ledekan, seperti menakut-nakuti, bukan kekhawatiran atau perhatian. Catty menyambar BB saya.
Catty     : Matiii aja lo, kasih advice kayak gini.. *salam fingercross * Catty. Doain ngga penuh dooong!
Buddy   : Makanya ini ditanya mau naik dari mana. Kalo bisa ke terminal biar duduk. Tapi berhubung udah nyolot duluan. Ya saya mah mau tidur aja lah ya.. Dududuuu~
Saya       : Tapi gue kan ngga nyolot *salam cinta* Saya. Telat juga sih. Ini udah di busway
Buddy   : Rencananya mau kemana? Masa gak pengalaman juga sih kalo mau libur begini ih.
Saya       : Kita baru aja sampai di Slipi, lagi nunggu bus ke Serang.
Buddy   : What? Baru nunggu bus ke Serang?
Saya       : Yup, penuh-penuh semua busnya.
Buddy   : I told ya
Saya       : Then? Should I say "wow"? – Saya mulai kesal karena perkataan Buddy bukannya menenangkan malah memperkeruh suasana. Saya menunjukkan BBM ini ke Catty.
Buddy   : Halah!
Catty     : Sapiii lu, jahat *Catty*
Buddy   : Perasaan udah dibilangin dah jangan pulang malem. Makanya tadi gue ijin pulang cepet di kantor. Tadi aja gue berdiri di bus, padahal masih siang. Di Slipi rame banget orang yang mau naik bus ya? Pada brebut?
Saya       : Kepepet ih, kerjaan lagi hectic banget. Ga bisa ijin pulang cepet. Jangankan itu, gue aja baru nyadar lebaran besok tuh kemaren.
Buddy   : Parah! Jangan terlalu gitu ah kerjanya, di luar dunia kerja masih banyak yg lebih indah. Sayang buat dilewatin karna kerjaan aja.
Saya       : Lebaran besok ngga bakal dilewatin kok, ini juga bakal dapet bus cuma harus bersabar aja.
Buddy   : Tadinya gue mau naik motor, tapi lg kurang fit. Maaf ya ngga jadi bareng – Awalnya saya mau dibonceng Buddy, naik motor Buddy, ke Serang.
Saya       : Lagian sama Catty juga, masa dia sendiri.
Buddy   : Biarin! Dia di pentil aja kalau ikut. Jangan kasih BB lo ke Catty. Nanti gue disuruh mati lah, dikatain sapi lah, aneh-aneh aja dia mah.
Saya sih waktu baca langsung ketawa sama pernyataan Buddy terakhir. Lumayanlah bikin saya dan Catty ketawa-ketiwi di pinggir jalan kota jakarta yang berdebu ini, sampai akhirnya kami dapat bus sekitar pukul 22.30 WIB.
Ini baru segores cerita tentang mereka.

Wednesday, August 10, 2011

Miss my (our) blog

Sudah lama tak bermain dengan kata, tak berjumpa dengan media permanen tempat mencurahkan rasa,
yang tak mengurangi bahkan melebih-lebihkan makna...


Last post: about last year???
Hmmm selama itukah dunia baruku mengalihkan perhatianku pada sastra dan seni tentunya
Dulu, setiap waktuku bermakna... Karena ketika tidak melakukan rutinitas,
aku bisa menulis, melukis, berkarya.. ya, menghasilkan karya.
Sekarang, ketika tidak melakukan rutinitas, aku lebih banyak berleha-leha di kamar kost
atau keluar mendatangi mall-mall di kota Jakarta
menghilangkan penat namun tidak menghasilkan karya.
Aku rindu berkarya, aku rindu bermain kata, aku rindu fingerstalk.
Welcome back to my self and please join me dear my partner!
Ayo berkarya lagi!