too enthusiasthic of art and belleslettres.
we luv reads, luv eats, luv write, luv paint, luv think about luv (wha??!).
we don't like smoking!
and of course, we always believe our hearttalks.
Aku terperangkap oleh waktu. Yang
terhenti oleh satu wajah. Wajah yang mampu menggerakkan banyak rasa. Diantara sayup,
aku yang dalam kesendirian waktu, menatap jauh dinding-dinding kosong yang
harus ku interpretasikan satu-satu. Ini mungkin yang orang-orang sebut
menyendiri, benar-benar sendiri. Mengapa bisa banyak orang berharap ‘sedang
ingin sendiri’, ‘saya sedang butuh waktu untuk sendiri’.
Ternyata rasanya tak enak, tinggal
sendiri dalam fikiran-fikiran yang berputar tak henti. Berceracau, bising, runyam seperti benang kusut yang biasa
diistilahkan orang. Kadang longgar. Tapi terus berlalu begitu dengan kata-kata
yang berterbangan terdisorientasi waktu dalam satu ruang sempit. Entah sudah
berapa tahun bahkan abad aku disini. Berkata-kata sendiri. Ditimpali oleh
dinding-dinding dingin. Lalu disangkal oleh diriku sendiri, untuk dicerca
kembali oleh kata-kata yang berserakan.
Setelah semua saling berbisik, bicara,
berteriak, dan berisik. Tiba-tiba sunyi. Mereka seperti lelah dan mulutnya
terkunci. Aku ingin keluar dari waktu yang terhenti disini.
Tiba-tiba aku terbangun, tapi
seperti sudah berpindah keluar dari dunia waktu. Sekali aku berucap dalam hati,
sepi, tak ada yang menimpali seperti tadi. Lalu ku berceracau kembali dalam
hati, tetap tak ada kata-kata lain yang bergeming. Aku teriak sebisaku, tetap hening.
Apakah dunia sudah terbalik?
Mungkin kini waktu yang
terperangkap dalam diriku. Kucium aroma rindu...
Lalu aku melenggang mengambil
handuk, dan mengambil setangkup roti bakar selai nanas.
Aku adalah kanvas yang sedang dijajakan di toko buku. Aku bisa melihat beberapa pengunjung, ada yang hanya melirik sebentar ke arahku, ada yang sudah memandang lama sambil menyentuhku tanda hampir tertarik padaku, ada yang sama sekali tidak melihatku… lewat begitu saja.
Lalu ada tangan yang membeliku, akhirnya. Aku dibawa ke rumahnya yang sangat besar, lalu ditaruhlah aku dipojok ruangan. Aku mendengar percakapan Tuanku dengan seorang yang lain. Aku terharu ketika tahu bahwa proses yang aku lalui untuk sampai ke tangan Tuan tidaklah mudah. Katanya aku memenuhi kriteria kanvas yang diinginkannya, mulai dari tekstur, bahan, warna, ukuran, dan juga harga. Aku memenuhi semua kriteria itu!
Lama sekali aku bersandar di sini. Tuanku bahkan belum menyentuhkan satu warna pun pada diriku. Aku jadi menyesal, mengapa aku disini. Kenapa aku tidak dibeli oleh Tuan lain yang benar-benar membuatku berguna, yang menggoreskan warna-warna indah dengan guratan seni yang menawan, sehingga jadilah aku lukisan yang rupawan dan bernilai. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi, hanya menanti sambil berharap-harap cemas. Apakah aku akan melapuk dalam keadaan tetap polos seperti ini? Dibuang? Diberikan kepada tuan lain? Atau Tuan akhirnya melukisku walaupun masih ada kekhawatiran akan menjadi lukisan seperti apa aku ini.
Kenyataannya aku bukanlah kanvas, aku manusia. Aku bisa bergerak, berusaha menjadi lukisan yang aku inginkan. Aku bisa melangkah keluar dari rumah Tuan itu dan mencari tempat lain yang lebih memahamiku atau aku bisa berteriak kepada si Tuan “hey, aku ada!”. Jadi, beruntunglah kita para manusia. Lukislah dirimu dengan warna-warna indah. Jadilah lukisan yang memukau dan bernilai tinggi. Jadilah ada.
Salah seorang rekan saya
mengingatkan bahwa blog ini mati suri. Jadi saya coba hidupkan lagi dengan
cerita pertama yang akan saya mulai adalah tentang rekan yang mengingatkan saya
tentang blog ini. Di bawah ini adalah percakapan saya dengan 2 orang yang
seperti kucing dan anjing, sebut saja Catty dan… Buddy (Doggy terlalu
kebinatangan). Note: Buddy ini rekan yang mengingatkan saya tentang blog ini.
Catty dan Buddy seperti paduan bahan sambel (tadi kucing dan anjing, sekarang
sambel, terima aja ya), bisa bikin saya mulas (karena banyak tertawa). Apalagi
kalau ada 2 orang lagi, sebut saja Rabbit dan Abang (bayangkan: Abang tukang
kelinci) saya bisa merasa gila sekaligus bersyukur karena saya sadar bahwa saya
paling waras diantara mereka.
Ceritanya berawal ketika saya dan
Catty akan mudik ke Serang, kami berencana berangkat sepulang dari kantor.
Buddy sudah berangkat duluan tepatnya dia ijin pulang cepat sebagai antisipasi
jalanan akan sangat macet karena arus mudik lebaran qurban. Jujur saya dan
Catty tidak menganggap kemacetan itu sesuatu yang WOW, toh cuma ke Serang,
bukan ke Tegal misalnya. Karena capek seharian bekerja, pergerakan kami lambat.
Sudah terlanjur malam, ya kemalaman sekalian, mungkin jalan akan berangsur
lengang, pikir kami.
Kami berangkat jam8 malam. Naik
busway menuju slipi. Di busway penuhnya minta ampun, jalananpun penuh tiada
tara. Diantara hempitan manusia ini, ada BBM masuk dari Buddy.
Buddy: Nyai hendak naik dari mana? Bisa dipastikan bus penuh, hati-hati
ah.
Karena sumpek, sensi, saya dan
Catty membaca kalimat Buddy seperti ledekan, seperti menakut-nakuti, bukan
kekhawatiran atau perhatian. Catty menyambar BB saya.
Catty: Matiii aja lo, kasih advice kayak gini.. *salam fingercross * Catty.
Doain ngga penuh dooong!
Buddy: Makanya ini ditanya mau naik dari mana. Kalo bisa ke terminal
biar duduk. Tapi berhubung udah nyolot duluan. Ya saya mah mau tidur aja lah
ya.. Dududuuu~
Saya: Tapi gue kan ngga nyolot *salam cinta* Saya. Telat juga sih.
Ini udah di busway
Buddy: Rencananya mau kemana? Masa gak pengalaman juga sih kalo mau
libur begini ih.
Saya: Kita baru aja sampai di Slipi, lagi nunggu bus ke Serang.
Buddy: What? Baru nunggu bus ke Serang?
Saya: Yup, penuh-penuh semua busnya.
Buddy: I told ya
Saya: Then? Should I say "wow"? – Saya mulai kesal
karena perkataan Buddy bukannya menenangkan malah memperkeruh suasana. Saya
menunjukkan BBM ini ke Catty.
Buddy: Halah!
Catty: Sapiii lu, jahat *Catty*
Buddy: Perasaan udah dibilangin dah jangan pulang malem. Makanya tadi gue
ijin pulang cepet di kantor. Tadi aja gue berdiri di bus, padahal masih siang.
Di Slipi rame banget orang yang mau naik bus ya? Pada brebut?
Saya: Kepepet ih, kerjaan lagi hectic banget. Ga bisa ijin pulang
cepet. Jangankan itu, gue aja baru nyadar lebaran besok tuh kemaren.
Buddy: Parah! Jangan terlalu gitu ah kerjanya, di luar dunia kerja
masih banyak yg lebih indah. Sayang buat dilewatin karna kerjaan aja.
Saya: Lebaran besok ngga bakal dilewatin kok, ini juga bakal dapet
bus cuma harus bersabar aja.
Buddy: Tadinya gue mau naik motor, tapi lg kurang fit. Maaf ya ngga
jadi bareng – Awalnya saya mau dibonceng Buddy, naik motor Buddy, ke Serang.
Saya: Lagian sama Catty juga, masa dia sendiri.
Buddy: Biarin! Dia di pentil aja kalau ikut. Jangan kasih BB lo ke
Catty. Nanti gue disuruh mati lah, dikatain sapi lah, aneh-aneh aja dia mah.
Saya sih waktu baca langsung
ketawa sama pernyataan Buddy terakhir. Lumayanlah bikin saya dan Catty
ketawa-ketiwi di pinggir jalan kota jakarta yang berdebu ini, sampai akhirnya
kami dapat bus sekitar pukul 22.30 WIB.
Sudah lama tak bermain dengan kata, tak berjumpa dengan media permanen tempat mencurahkan rasa,
yang tak mengurangi bahkan melebih-lebihkan makna...
Last post: about last year???
Hmmm selama itukah dunia baruku mengalihkan perhatianku pada sastra dan seni tentunya
Dulu, setiap waktuku bermakna... Karena ketika tidak melakukan rutinitas,
aku bisa menulis, melukis, berkarya.. ya, menghasilkan karya.
Sekarang, ketika tidak melakukan rutinitas, aku lebih banyak berleha-leha di kamar kost
atau keluar mendatangi mall-mall di kota Jakarta
menghilangkan penat namun tidak menghasilkan karya.
Aku rindu berkarya, aku rindu bermain kata, aku rindu fingerstalk.
Welcome back to my self and please join me dear my partner!
Ayo berkarya lagi!