Monday, January 14, 2013

Tik

Tik, tik, hujan rintik-rintik. Basahnya memercik, laju sampai samudra atlantik.
Tik, tik, jam dinding berdetik. Geraknya satu titik - satu titik sampai kembali ke awal titik.
Tik, tik, cinta mendelik. Sepertinya alegorik sampai pada akhirnya begitu realistik.
Samudra menguap lalu kembali hujan lagi
Detik berjalan lalu kembali ke awal hari
Cinta berkelana lalu kembali ke satu hati

Realita Mimpi

Malam ini aku tidak bisa tidur. Bukan karena pahitnya caffe americano yang kuminum, tapi karena manisnya pria yang menemaniku menikmatinya.
Ku cukup bahagia berada di tengah manusia yang kau undang pada pestamu. Meski hanya gelombang suara dari diafragmamu yang sampai ke gendang telingaku. Meski hanya sekedip tatapmu yang tertangkap oleh rasaku. Diantara manusia lainnya, aku dan kamu terhubung.
Kalau pada akhirnya aku bisa terlelap, aku berjanji akan membawamu ke mimpiku. Aku ingin bersentuhan lagi dengan suara dan tatapmu.
Mimpi, realita, mimpi, realita.
Jika realita bisa lebih indah pada akhirnya, aku berjanji akan menarikmu dari mimpi dan mendorongmu masuk ke hidupku. Tapi jika mimpi lebih indah, beri tahu aku lebih awal, agar aku tak perlu bersusah payah menunggumu.

Sunday, January 13, 2013

WAKTU

Aku terperangkap oleh waktu. Yang terhenti oleh satu wajah. Wajah yang mampu menggerakkan banyak rasa. Diantara sayup, aku yang dalam kesendirian waktu, menatap jauh dinding-dinding kosong yang harus ku interpretasikan satu-satu. Ini mungkin yang orang-orang sebut menyendiri, benar-benar sendiri. Mengapa bisa banyak orang berharap ‘sedang ingin sendiri’, ‘saya sedang butuh waktu untuk sendiri’.

Ternyata rasanya tak enak, tinggal sendiri dalam fikiran-fikiran yang berputar tak henti. Berceracau, bising,  runyam seperti benang kusut yang biasa diistilahkan orang. Kadang longgar. Tapi terus berlalu begitu dengan kata-kata yang berterbangan terdisorientasi waktu dalam satu ruang sempit. Entah sudah berapa tahun bahkan abad aku disini. Berkata-kata sendiri. Ditimpali oleh dinding-dinding dingin. Lalu disangkal oleh diriku sendiri, untuk dicerca kembali oleh kata-kata yang berserakan.

Setelah semua saling berbisik, bicara, berteriak, dan berisik. Tiba-tiba sunyi. Mereka seperti lelah dan mulutnya terkunci. Aku ingin keluar dari waktu yang terhenti disini.

Tiba-tiba aku terbangun, tapi seperti sudah berpindah keluar dari dunia waktu. Sekali aku berucap dalam hati, sepi, tak ada yang menimpali seperti tadi. Lalu ku berceracau kembali dalam hati, tetap tak ada kata-kata lain yang bergeming. Aku teriak sebisaku, tetap hening. Apakah dunia sudah terbalik?

Mungkin kini waktu yang terperangkap dalam diriku. Kucium aroma rindu...
Lalu aku melenggang mengambil handuk, dan mengambil setangkup roti bakar selai nanas.

Saturday, January 12, 2013

Tuan Hujan #1

Tuan Hujan Pemalu


kamu menyapaku malumalu
bahkan senja menyipit dan tersipu
dedaunan bergoyang kemayu
ahh, rinduku satusatu

kamu tak bisa terus begitu
lamalama dan jauh
kita satu raga dalam jingga
biarkan kelabu dan biru tanpa ratu

aku rindu kamu tuanhujan
baumu yang dingin sendu
seperti bau roti bakar
dan rasa jeruk yang kecut

Thursday, January 10, 2013

Kanvas

Aku adalah kanvas yang sedang dijajakan di toko buku. Aku bisa melihat beberapa pengunjung, ada yang hanya melirik sebentar ke arahku, ada yang sudah memandang lama sambil menyentuhku tanda hampir tertarik padaku, ada yang sama sekali tidak melihatku… lewat begitu saja.

Lalu ada tangan yang membeliku, akhirnya. Aku dibawa ke rumahnya yang sangat besar, lalu ditaruhlah aku dipojok ruangan. Aku mendengar percakapan Tuanku dengan seorang yang lain. Aku terharu ketika tahu bahwa proses yang aku lalui untuk sampai ke tangan Tuan tidaklah mudah. Katanya aku memenuhi kriteria kanvas yang diinginkannya, mulai dari tekstur, bahan, warna, ukuran, dan juga harga. Aku memenuhi semua kriteria itu!

Lama sekali aku bersandar di sini. Tuanku bahkan belum menyentuhkan satu warna pun pada diriku. Aku jadi menyesal, mengapa aku disini. Kenapa aku tidak dibeli oleh Tuan lain yang benar-benar membuatku berguna, yang menggoreskan warna-warna indah dengan guratan seni yang menawan, sehingga jadilah aku lukisan yang rupawan dan bernilai. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi, hanya menanti sambil berharap-harap cemas. Apakah aku akan melapuk dalam keadaan tetap polos seperti ini? Dibuang? Diberikan kepada tuan lain? Atau Tuan akhirnya melukisku walaupun masih ada kekhawatiran akan menjadi lukisan seperti apa aku ini.

Kenyataannya aku bukanlah kanvas, aku manusia. Aku bisa bergerak, berusaha menjadi lukisan yang aku inginkan. Aku bisa melangkah keluar dari rumah Tuan itu dan mencari tempat lain yang lebih memahamiku atau aku bisa berteriak kepada si Tuan “hey, aku ada!”. Jadi, beruntunglah kita para manusia. Lukislah dirimu dengan warna-warna indah. Jadilah lukisan yang memukau dan bernilai tinggi. Jadilah ada.