Tuesday, January 08, 2013

Tentang Buddy

Salah seorang rekan saya mengingatkan bahwa blog ini mati suri. Jadi saya coba hidupkan lagi dengan cerita pertama yang akan saya mulai adalah tentang rekan yang mengingatkan saya tentang blog ini. Di bawah ini adalah percakapan saya dengan 2 orang yang seperti kucing dan anjing, sebut saja Catty dan… Buddy (Doggy terlalu kebinatangan). Note: Buddy ini rekan yang mengingatkan saya tentang blog ini. Catty dan Buddy seperti paduan bahan sambel (tadi kucing dan anjing, sekarang sambel, terima aja ya), bisa bikin saya mulas (karena banyak tertawa). Apalagi kalau ada 2 orang lagi, sebut saja Rabbit dan Abang (bayangkan: Abang tukang kelinci) saya bisa merasa gila sekaligus bersyukur karena saya sadar bahwa saya paling waras diantara mereka.
Ceritanya berawal ketika saya dan Catty akan mudik ke Serang, kami berencana berangkat sepulang dari kantor. Buddy sudah berangkat duluan tepatnya dia ijin pulang cepat sebagai antisipasi jalanan akan sangat macet karena arus mudik lebaran qurban. Jujur saya dan Catty tidak menganggap kemacetan itu sesuatu yang WOW, toh cuma ke Serang, bukan ke Tegal misalnya. Karena capek seharian bekerja, pergerakan kami lambat. Sudah terlanjur malam, ya kemalaman sekalian, mungkin jalan akan berangsur lengang, pikir kami.
Kami berangkat jam8 malam. Naik busway menuju slipi. Di busway penuhnya minta ampun, jalananpun penuh tiada tara. Diantara hempitan manusia ini, ada BBM masuk dari Buddy.
Buddy   : Nyai hendak naik dari mana? Bisa dipastikan bus penuh, hati-hati ah.
Karena sumpek, sensi, saya dan Catty membaca kalimat Buddy seperti ledekan, seperti menakut-nakuti, bukan kekhawatiran atau perhatian. Catty menyambar BB saya.
Catty     : Matiii aja lo, kasih advice kayak gini.. *salam fingercross * Catty. Doain ngga penuh dooong!
Buddy   : Makanya ini ditanya mau naik dari mana. Kalo bisa ke terminal biar duduk. Tapi berhubung udah nyolot duluan. Ya saya mah mau tidur aja lah ya.. Dududuuu~
Saya       : Tapi gue kan ngga nyolot *salam cinta* Saya. Telat juga sih. Ini udah di busway
Buddy   : Rencananya mau kemana? Masa gak pengalaman juga sih kalo mau libur begini ih.
Saya       : Kita baru aja sampai di Slipi, lagi nunggu bus ke Serang.
Buddy   : What? Baru nunggu bus ke Serang?
Saya       : Yup, penuh-penuh semua busnya.
Buddy   : I told ya
Saya       : Then? Should I say "wow"? – Saya mulai kesal karena perkataan Buddy bukannya menenangkan malah memperkeruh suasana. Saya menunjukkan BBM ini ke Catty.
Buddy   : Halah!
Catty     : Sapiii lu, jahat *Catty*
Buddy   : Perasaan udah dibilangin dah jangan pulang malem. Makanya tadi gue ijin pulang cepet di kantor. Tadi aja gue berdiri di bus, padahal masih siang. Di Slipi rame banget orang yang mau naik bus ya? Pada brebut?
Saya       : Kepepet ih, kerjaan lagi hectic banget. Ga bisa ijin pulang cepet. Jangankan itu, gue aja baru nyadar lebaran besok tuh kemaren.
Buddy   : Parah! Jangan terlalu gitu ah kerjanya, di luar dunia kerja masih banyak yg lebih indah. Sayang buat dilewatin karna kerjaan aja.
Saya       : Lebaran besok ngga bakal dilewatin kok, ini juga bakal dapet bus cuma harus bersabar aja.
Buddy   : Tadinya gue mau naik motor, tapi lg kurang fit. Maaf ya ngga jadi bareng – Awalnya saya mau dibonceng Buddy, naik motor Buddy, ke Serang.
Saya       : Lagian sama Catty juga, masa dia sendiri.
Buddy   : Biarin! Dia di pentil aja kalau ikut. Jangan kasih BB lo ke Catty. Nanti gue disuruh mati lah, dikatain sapi lah, aneh-aneh aja dia mah.
Saya sih waktu baca langsung ketawa sama pernyataan Buddy terakhir. Lumayanlah bikin saya dan Catty ketawa-ketiwi di pinggir jalan kota jakarta yang berdebu ini, sampai akhirnya kami dapat bus sekitar pukul 22.30 WIB.
Ini baru segores cerita tentang mereka.

Wednesday, August 10, 2011

Miss my (our) blog

Sudah lama tak bermain dengan kata, tak berjumpa dengan media permanen tempat mencurahkan rasa,
yang tak mengurangi bahkan melebih-lebihkan makna...


Last post: about last year???
Hmmm selama itukah dunia baruku mengalihkan perhatianku pada sastra dan seni tentunya
Dulu, setiap waktuku bermakna... Karena ketika tidak melakukan rutinitas,
aku bisa menulis, melukis, berkarya.. ya, menghasilkan karya.
Sekarang, ketika tidak melakukan rutinitas, aku lebih banyak berleha-leha di kamar kost
atau keluar mendatangi mall-mall di kota Jakarta
menghilangkan penat namun tidak menghasilkan karya.
Aku rindu berkarya, aku rindu bermain kata, aku rindu fingerstalk.
Welcome back to my self and please join me dear my partner!
Ayo berkarya lagi!

Saturday, June 05, 2010

aku aku

Aku menatap pada senja, dan warna jingga.
meratap rona, menjelang gulita.
ia duduk di teras rumah, menggamit aku yang terselip di tangannya.
aku pernah ia baca berulang kali,
pada pagi,siang,senja,hingga petang.
aku pernah terselip di sungging senyumnya.
aku pernah bersuara seiring detaknya.
aku menjadi bagian teristimewa dibanding ratusan halaman lainnya.
aku pernah bersanding dengan senja,
beriringan dengan bulan,
tertawa bersama malam.
aku pernah mengenalkan pelangi,
bahkan berhembus dengan angin selatan.

aku aku, yang terselip di halaman 138 paragraf ke-2 baris ke-12.
aku aku, yang terlipat kusut di antara 1000 halaman.
ya, itu aku.

Monday, April 12, 2010

Hujan di Bulan juni - Sapardi Djoko Damono.


Tidak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya titik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

Friday, March 12, 2010

Sudahlah...

"Kata siapa aku sedang bermain-main kata?
Aku tidak sedang bermain-main kata.
Mungkin kata yang sedang mempermainkan aku.
Atau aku dan kata sedang bermain-main saja.
Ah, sudahlah... ^^"